Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label sharing

Sebuah Saran Tentang Memilih Posisi Tempat Duduk di Bioskop

Ketika menonton film di bioskop, saya hampir selalu duduk di baris tengah : baris F, G, atau H. Untuk nomer kursi, saya lebih sering pilih yang dekat lajur jalan  (aisle)  supaya gampang aksesnya. Pengecualian kalau saya nonton film di teater IMAX, atau di teater berkapasitas besar, atau kebetulan sedang nonton film 3D, maka saya akan pilih nomer kursi di tengah. Rata-rata kursi di teater adalah nomer 1-22. Saya akan pilih kursi nomer 11 atau 12. Itu kalau saya. :))) Beberapa tahun lalu saya baca cuitan di akun Twitter Yohan Arie ( username : [at] aerorun ) tentang posisi ideal ketika menonton film di bioskop, terutama jika kita ingin menguji kualitas gambar. Mas Yohan menulis cuitan itu dari Insta-stories Arief Retno Pribadi, seorang sinematografer atau Director of Photography yang cukup ternama di industri perfilman Indonesia (akun Instagram: ariefdop). Berikut ini saya simpulkan isi dari postingan tersebut : 1. Jika menonton film Hollywood , pilihlah deretan tempat duduk se...

Nrimo ing fandom

Nama saya Devi Okta, dan saya tidak punya fanatisme terhadap musik atau lagu tertentu. Perkara musik, saya ini moderat. Kriteria lagu kesukaan saya itu ada dua : musiknya enak di telinga saya dan liriknya pas di hati saya. Wis, ngono tok. Jadi saya tidak punya pantangan atau alergi dengan musik apapun. Mungkin karena inilah saya bisa mudah membaur dengan topik pembicaraan soal musik. Minimal saya paham siapa-siapa pelakunya atau setidaknya tahu satu judul lagunya. Kalau di warung Pak Muk dan Bu Is (warung makan di depan pabrik saya bekerja) kebetulan ada yang karaoke, saya dengan mudah nimbrung karena tau lagu yang dinyanyikan. Bagi saya, fanatisme terhadap musik itu hanya menyempitkan pikiran dari hal-hal baru, karena musik itu produk budaya yang terus mengalir dan terus tercipta. Orang yang tidak suka lagu campursari Jawa sama sekali, dia tidak bisa menikmati syahdunya Lingsir Wengi dan Ketaman Asmara. Orang yang tidak suka musik pop The Beatles, pasti tidak bisa paham betapa nelangs...

Ulasan Film : Sakaratul Maut (2024)

Baiklah, langsung saja, ya. Ini adalah pengalaman saya menonton film Sakaratul Maut di Transmart Setiabudi XXI pada hari Sabtu malam tanggal 3 Agustus 2024. Ini adalah film karya Sidharta Tata yang sebelumnya menyutradarai Malam Pencabut Nyawa, yang merupakan adaptasi novel Respati karya Ragiel JP. Jujur saya terkesan dengan Malam Pencabut Nyawa yang successfully blending elemen horor dan fantasi, jadi ketika Sidharta Tata bikin film lagi, saya tetep nonton. Tapi sebelum nonton Sakaratul Maut, saya nggak ngeset standar apa-apa, sih. Biar judgement saya tetap netral. Let it flow aja :)) Yang saya suka dari Sakaratul Maut : - sekuens pembukanya biarpun belum banyak menebar teror tapi cukup gripping . Pondasi yang cukup oke untuk mengikat penonton ke adegan-adegan setelahnya. - alur cerita solid, dan penokohannya cukup gampang diikuti. Alih-alih kisah hidupnya dibeberkan di bagian depan, latar belakang tiap karakter utamanya dikulik pelan-pelan sampai di pertengahan film. Kalo misalnya k...

Pekerja Salon

Jika saya diberi kesempatan untuk mencoba me-reset kehidupan saya, mungkin pekerjaan yang saya tekuni adalah menjadi tukang salon.    Saya ingin sekali mahir memangkas rambut orang dengan menyesuaikan bentuk muka, kemudian mewarnai rambut dengan shade ala jajanan arum manis sampai warna perak, meluruskan atau mengeriting rambut, membentuk alis, memasang bulu mata tambahan, dan melakukan perawatan muka maupun merias wajah untuk acara tertentu. Di mata saya, ini pekerjaan yang seru untuk dijalani. Saya membayangkan pekerjaan mereka yang setiap hari bertemu macam-macam manusia dengan karakter yang unik. Setiap orang akan duduk manis, lalu sambil 'dipermak' mereka akan menyampaikan cerita hidup mereka, keluh kesah mereka, potret kehidupan yang mereka jalani, sampai segelintir kasak-kusuk yang belum tentu diketahui banyak orang. Misalnyq, seorang klien yang kerja di kelurahan mungkin akan membeberkan cerita perselingkuhan antara kepala administrasi dengan pegawai catering langganan...

A to Z Hot Boys 2017

Halo, semuanya. Sudah hampir enam bulan ternyata kita tidak berjumpa, ya. Ada yang kangen sama diriku ini  postingan blog ini? Enggak ada, ya? Alhamdulillah.. berarti nggak masalah kalo isinya nggak sering-sering diupdate. Hihihi Mengawali *ehem* perjumpaan kita di tahun 2018 ini, saya hendak memuat posting berisi A to Z cowok-cowok keren sepanjang 2017 baik lokal maupun mancanegeri. Di dalam daftar kali ini ada 37 figur cowok dari huruf A sampai Z yang cakep dan hensem, according to Devi's rank. Paling asik emang bikin postingan yang bikin mata seger, yekan? Kalau dirunut ke belakang, ini adalah postingan A to Z HOT MALE CELEB yang keempat kalinya saya bikin, sejak pertama kali merilis daftar ini tahun 2014 lalu. Silakan dibuka-buka sendiri kolom riwayat postingan ya, kalo kalian mau lihat siapa saja selebriti ganteng yang bertengger di daftar sebelumnya. Baiklah, tanpa berlama-lama lagi, inilah daftar cowok-cowok keren dari huruf A sampai Z versi Devi In Disguise. Check 'e...

TULIS MENULIS (part 2)

Berikut ini laporan Talkshow Menulis yang disadur dari buku catatan Devi In Disguise tanggal 13 November. Pelatihan Menulis Kampus Fiksi Spesial Semarang Pelaksanaan : Minggu, 13 November 2016 pukul 09.00 - 16.00 Lokasi : Gedung Wanita Semarang HTM : tidak ada HTM, tinggal datang dan duduk manis, dapat makan siang gratis Selain diskusi bersama Moammar Emka, pada tahun 2016 saya juga mengikuti pelatihan menulis bersama DivaPress, salah satu penerbit major di Indonesia yang berpusat di Jogjakarta. Acara seharusnya dimulai jam 09.00 tapi aktualnya baru dibuka jam 09.40 ~ forty minutes late than the schedule. Entah kapan manusia-manusia Indonesia belajar menghargai ketepatan waktu dan bebas dari Jam Karet. Aula Gedung Wanita dipenuhi oleh 200 peserta. Saya duduk di deretan tengah, baris kelima, di belakang cowok bermuka Arab yang ganteng. Hidungnya mancung, rambutnya bergelombang, tubuhnya tinggi. He's perfect, he has everything, except my number. Hahahaha Acara Kampus F...

"Udah kebiasaan, sih!"

At the end, it's about the habit. Saya termasuk orang yang percaya peribahasa "alah bisa karena biasa". Bahwa segala hal yang baru bisa kita kuasai kalau kita terbiasa melakukannya. Ambil contoh bahasa Inggris. Bahasa Inggris bukanlah bahasa Ibu saya. Tapi toh alhamdulillah saya bisa. Kenapa? Pertama, karena saya suka mempelajari bahasa Inggris. Kedua, karena saya terbiasa memakai bahasa Inggris. Paling tidak seminggu sekali. Belum lagi kalau nonton film dan memperagakan gaya pemeran utamanya di depan kaca, nah itu juga termasuk upaya pembiasaan untuk meluweskan lidah. Kini pun sekarang saya bekerja di perusahaan yang sebagian besar komunikasinya menggunakan bahasa Inggris, mulai dari balas-membalas email, baca manual, hingga Order confirmed. Semuanya memakai bahasa Inggris. Makanya saya akhirnya bisa fasih bahasa Inggris. Pasif maupun aktif. Di zaman modern ini, saya kerap menjumpai orangtua yang mengeluh bahwa anaknya tak bisa bahasa Jawa. Padahal mereka orang Jawa. Ib...

Tiga Alasan Kenapa Saya Memilih SMK

Nama saya Devi Oktaviasari, dan benar sekali, saya alumni SMK. Pasti kalian tau lah ya, kalau SMK itu singkatan dari Sekolah Menengah Kejuruan. Saya ingat di hari pertama Masa Orientasi Siswa (MOS), Bapak Wakil Kepala Sekolah saya pernah berkoar : "Kalian dipanas-panasin begini jangan mengeluh. Terima saja. Kalian musti disiplin dan terbiasa hidup keras. Ngapain kalian masuk ke SMK, hah? SMK itu Sekolah Menjadi Kuli . Kalian calon-calon kuli!" Dan kami, para murid-murid freshmen cuma bisa menunduk saat ditatar begitu. Maklum, namanya juga anak baru. Di masa sekarang, kalau kami ingat lagi masa-masa ditatar begitu, rasanya kami ingin menjawab "Kuli..kuli... Kuli ndasmu kuwi!" Hehehehe..  *Oh, iya, please jangan ucapkan kalimat ini sama teman kalian yang berasal dari suku Jawa. Pokoknya jangan. Demi keselamatan jiwa raga kalian sendiri.* Dalam bahasa Inggris, SMK bisa ditulis sebagai Vocational High School. Sekolah lanjutan yang berkaitan dengan lapa...

Tiga alasan kenapa lebih enak ngajak orang nonton standup comedy daripada ngajak orang nonton film ke bioskop

in my own thought, mungkin inilah alasan kenapa lebih simpel mengajak nonton standup comedy daripada mengajak nonton bioskop Satu, harga tiketnya Let's see, berapa sih tarif Harga Tiket Masuk (HTM) untuk nonton di bioskop? Di Semarang, ada 3 bioskop yang masih beroperasi : Citra 21 (di mal Citraland), XXI (di Paragon Mall) dan E-Plaza. Pada hari Senin-Kamis, harga tiket masuknya 30ribu untuk Citra dan E-Plaza Semarang, sementara di XXI Paragon harganya 40ribu. Kalau hari Minggu dan hari libur nasional, tarifnya menjadi 40ribu (Citra dan E-Plaza), dan tarif di bioskop XXI itu 60ribu. Di Karangjati, duit 60ribu itu kalau dibelikan nasi goreng bisa dapat 6 piring plus es teh manis 1 gelas. Itu artinya, kalau kamu nonton sama pacar kamu di hari Minggu, at least musti ngeluarin duit 80ribu buat beli 2 tiket, dan akan muncul pengeluaran lain (misalnya makan bareng). Kalau ditotal-total, yah paling enggak pengeluarannya jadi 150ribu. Itu baru nonton di Citra atau E-Plaza. Kalau kamu ...