Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label literature

Bidadari Datang ke Kota kami

ini cerpen yang pernah saya baca di Suara Merdeka, edisi hampir 10 tahun lalu. Bahkan waktu itu korannya tak lengkap. Maklum, namanya saja koran nemu. Waktu tetangga bersih-bersih, beberapa koran ada yang dibuang. Dasarnya suka baca, maka begitu ada koran yang terbuang, saya langsung memungut dan menemukan cerpen ini. Yang saya ingat sampai sekarang tentang cerpen ini adalah bagian akhirnya, yaitu ketika anak-anak desa kehilangan kaki, tangan dan kepala setelah Sang Bidadari lenyap. Saya pikir, wah seram sekali. Seperti santet. Waktu itu masih kelas 6 SD, sehingga saya belum tau istilah cerpen surealis. Taunya serem aja. Beberapa waktu lalu saya gooling (yes, i must thank Google for providing so many useful website) dan mencari-cari cerpen ini. Ternyata, ada blogger lain yang juga 'menyalin' Cerpen ini dan memajang di blog-nya. Kamu juga mau tau isi cerpennya? Simak dan baca yang berikut ini. SUATU HARI PERNAH ADA BIDADARI DATANG KE KOTA KAMI Sebuah Cerpen karya Ik...

Pelajaran Mengarang - Sebuah Cerpen Karya Seno Gumiro Adjidharma

Pelajaran mengarang sudah dimulai. "Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati. Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”. Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa. Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Gu...