Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label reflection

Kebahagiaan-kebahagiaan Kecil

 - lagi berkendara naik ojek, ketika sampai di perempatan lampu lalu lintas, eh lampunya pas nyala hijau. - mau buang sampah kertas ke tempat sampah yang letaknya beberapa langkah dari meja kita. Pas nyoba lembar, wuihh... lemparannya berhasil masuk pas ke tempat sampah. Berasa kayak Kareem Abdul-Jabbar lagi cetak skor. - di dalam bus, nyalain playlist Spotify secara acak, eh yang muncul keputar pertama adalah lagu favorit. - aroma tanah dan jalanan yang basah tersiram hujan setelah panas seharian. Iya, petrichor namanya. - turun dari bus, papasan sama strangers laki-laki maupun perempuan, lempar senyum tipis secara sopan, dan mereka senyum balik. - posting sesuatu di Whatsapp stories, terus dapat like (love) dari orang yang kebetulan saya taksir. Ciyee..ciyee.. - Menyeduh kopi dengan air panas mendidih. Oh, that aroma and that first sip are just perfect. - Pesan sesuatu dari online shop dan barangnya sampai lebih cepat dari estimasi. - Pengen banget nyoba makan sesuatu yang baru, ...

Nrimo ing fandom

Nama saya Devi Okta, dan saya tidak punya fanatisme terhadap musik atau lagu tertentu. Perkara musik, saya ini moderat. Kriteria lagu kesukaan saya itu ada dua : musiknya enak di telinga saya dan liriknya pas di hati saya. Wis, ngono tok. Jadi saya tidak punya pantangan atau alergi dengan musik apapun. Mungkin karena inilah saya bisa mudah membaur dengan topik pembicaraan soal musik. Minimal saya paham siapa-siapa pelakunya atau setidaknya tahu satu judul lagunya. Kalau di warung Pak Muk dan Bu Is (warung makan di depan pabrik saya bekerja) kebetulan ada yang karaoke, saya dengan mudah nimbrung karena tau lagu yang dinyanyikan. Bagi saya, fanatisme terhadap musik itu hanya menyempitkan pikiran dari hal-hal baru, karena musik itu produk budaya yang terus mengalir dan terus tercipta. Orang yang tidak suka lagu campursari Jawa sama sekali, dia tidak bisa menikmati syahdunya Lingsir Wengi dan Ketaman Asmara. Orang yang tidak suka musik pop The Beatles, pasti tidak bisa paham betapa nelangs...

Pekerja Salon

Jika saya diberi kesempatan untuk mencoba me-reset kehidupan saya, mungkin pekerjaan yang saya tekuni adalah menjadi tukang salon.    Saya ingin sekali mahir memangkas rambut orang dengan menyesuaikan bentuk muka, kemudian mewarnai rambut dengan shade ala jajanan arum manis sampai warna perak, meluruskan atau mengeriting rambut, membentuk alis, memasang bulu mata tambahan, dan melakukan perawatan muka maupun merias wajah untuk acara tertentu. Di mata saya, ini pekerjaan yang seru untuk dijalani. Saya membayangkan pekerjaan mereka yang setiap hari bertemu macam-macam manusia dengan karakter yang unik. Setiap orang akan duduk manis, lalu sambil 'dipermak' mereka akan menyampaikan cerita hidup mereka, keluh kesah mereka, potret kehidupan yang mereka jalani, sampai segelintir kasak-kusuk yang belum tentu diketahui banyak orang. Misalnyq, seorang klien yang kerja di kelurahan mungkin akan membeberkan cerita perselingkuhan antara kepala administrasi dengan pegawai catering langganan...

Man Machina

Tutup dan Majunya sebuah pabrik garment tidak hanya berpengaruh pada karyawannya. Hari Selasa lalu kepala departemen saya mengirim pesan surel yang berisi potongan artikel dari Bloomberg dan Time . Yang satu membahas tentang berubahnya peta pekerjaan di wilayah Asia karena dominasi mesin dan robot, sementara artikel satunya lagi tentang fenomena mall-mall perbelanjaan di Amerika yang tutup di tahun 2017. Ada lagi artikel lain, dilansir dari South Cina Morning Post yang juga bicara tentang penggunaan mesin otomatis, sampai artikel dari Sourcing Journal yang lagi-lagi masih soal robot untuk menyokong produktivitas. Para manajer di tempat kerja saya memang secara teratur membagikan artikel (online atau cetak) tentang kondisi bisnis garment maupun sekedar motivasi ringan. Pada artikel berjudul "The Asian Jobs Ladder is Broken" dari Bloomberg tertulis bahwa penggerak industri pabrik, utamanya di Tiongkok sedang gencar mengganti tenaga pekerja dengan mesin. Di industri tekstil, ...

Nyontek Through The Ages

Ini adalah postingan iseng yang bersumber dari pengamatan santai. Jadi jangan dibawa serius, lah ya. Kayak nggak pernah piknik aja.  Kalau kamu sama-sama penggemar karya JK Rowling seperti saya, kamu pasti tau kalo Rowling pernah nerbitin buku judulnya Quidditch Through The Ages . Buku itu berisi tentang sejarah diciptakannya permainan Quidditch dan perkembangannya dari tahun ke tahun. Well.. Judul posting kali ini "Nyontek Through The Ages", juga terinspirasi dari Bu JK Rowling. Bedanya, postingan ini bukan bagian dari dunia sihir Harry Potter. Postingan ini akan bercerita tentang tipe-tipe nyontek yang pernah saya temui (dan ada juga yang saya lakukan sendiri, ehem...) selama sekolah. Makanya saya kasih judul Nyontek Through The Ages, atau Nyontek dari Masa ke Masa. Sebagai manusia yang menghabiskan masa SD 6 tahun, SMP 3 tahun, dan SMK 4 tahun, saya cukup kenyang mendapat pelajaran, PR dan ulangan. Seperti halnya roti tawar yang baru lengkap kalo ada margarin dan selai...

Betapa Inginnya Aku (Jadi Anak Kecil Lagi)

Semakin kita dewasa, kita (mungkin) jadi bijak. Tapi ada hal-hal dari masa kecil yang hilang. Salah satunya : rasa nekat. Sebagai orang dewasa, kita paham bahwa jatuh itu sakit. Kita mengerti bahwa gagal itu menyakitkan. Kita sudah mengenal rasa malu saat berbuat kesalahan. Lalu kita kapok mencoba. Kita menjadi terlalu waspada. Terlalu berhati-hati. Anak kecil tidak. Jatuh bangun karena belajar naik sepeda? Tak masalah. Tidak ada kata kapok saat mereka jatuh saat memanjat pohon jambu. Pantat mungkin sakit, kaki mungkin tergores, tapi besoknya pasti akan memanjat lagi. Kenapa? Karena bagi anak kecil, semuanya setimpal dengan keasikan yang mereka dapat. Mereka menikmati. Mereka risk taker sejati, anak-anak kecil itu. Mencoba hal baru tanpa banyak menimbang untung-rugi. Karena bagi mereka, setiap hal baru berarti petualangan. Dan petualangan adalah nafkah untuk imajinasi. Ah, betapa inginnya aku jadi anak-anak kecil lagi.

In the name of Fear

SATU Beberapa waktu lalu saya nonton ulang film Harry Potter kelima (Harry Potter and the Order of the Phoenix) dari DVD. Walaupun udah hapal ceritanya tapi saya nggak pernah bosen nonton ulang. In my opinion, dari semua film Harry Potter lainnya, film kelima ini adalah adaptasi yang paling bagus dan paling emosional kedua setelah Harry Potter and the Deathly Hallows part 2. Problema dilematis yang dilewati Harry di masa transisinya sebagai remaja begitu rumit. Persidangan di Departemen Sihir, sikap Profesor Dumbledore yang tiba-tiba menjauh, kisah cintanya dengan Cho Chang (yang akhirnya kandas, hahaha.. saya senang sekali!) dan puncaknya Harry kehilangan satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya (dan saya nangis waktu adegan ini. Biarin) Di film kelima ini, Pangeran Kegelapan Lord Voldemort mulai bangkit. Sesuatu yang amat ditakuti oleh semua masyarakat sihir. Terjadi pelarian besar-besaran di penjara Azkaban dan penyihir-penyihir keji kembali mengabdi pada tuan besar mereka. Ke...

"Udah kebiasaan, sih!"

At the end, it's about the habit. Saya termasuk orang yang percaya peribahasa "alah bisa karena biasa". Bahwa segala hal yang baru bisa kita kuasai kalau kita terbiasa melakukannya. Ambil contoh bahasa Inggris. Bahasa Inggris bukanlah bahasa Ibu saya. Tapi toh alhamdulillah saya bisa. Kenapa? Pertama, karena saya suka mempelajari bahasa Inggris. Kedua, karena saya terbiasa memakai bahasa Inggris. Paling tidak seminggu sekali. Belum lagi kalau nonton film dan memperagakan gaya pemeran utamanya di depan kaca, nah itu juga termasuk upaya pembiasaan untuk meluweskan lidah. Kini pun sekarang saya bekerja di perusahaan yang sebagian besar komunikasinya menggunakan bahasa Inggris, mulai dari balas-membalas email, baca manual, hingga Order confirmed. Semuanya memakai bahasa Inggris. Makanya saya akhirnya bisa fasih bahasa Inggris. Pasif maupun aktif. Di zaman modern ini, saya kerap menjumpai orangtua yang mengeluh bahwa anaknya tak bisa bahasa Jawa. Padahal mereka orang Jawa. Ib...

Explain!

Saya pernah baca kalimat ini laman digital : “If you can’t explain something to 6 years old kid, then you don’t really understand about it” Oke, saya akan kasih kalian satu menit untuk memahami kalimat itu. --- satu menit kemudian --- Pertama kali membaca kalimat diatas, saya hanya mendecak. Oh, jadi maksudnya kita dianggap “mudeng” kalau sudah bisa menjelaskan sebuah hal pada anak berusia 6 tahun, begitu? That’s weird. Mengapa harus anak kecil yang menjadi tolok ukur level pemahaman, tanya saya. Kalau seseorang mengaku paham tentang sebuah hal, mestinya dia bisa menjelaskan hal itu kepada semua orang . Tapi kemudian saya berpikir bahwa kalimat tadi ada benarnya juga. Gini lho. Anak berusia 6 tahun punya kapasitas berpikir yang sederhana. Untuk menjelaskan tentang proses penyerbukan, kita tak bisa langsung menjejali mereka dengan istilah biologis tentang bagian-bagian tumbuhan. Pertanyaan sederhana semacam “kenapa langit warnanya biru?” tak bisa secara serampangan dibeberk...

Lihat dari Luar

Pemandangan pagi ini, dari mata orang lain : Devi berangkat kerja, naik mobil Luxioo. Devi duduk di jok depan. Mobil Luxioo itu berhenti di depan gerbang pabrik. Devi pasti diantar calon suaminya. Dan mungkin calon suaminya orang yang cukup mapan karena bisa beli Luxioo. Pemandangan pagi ini, yang sebenarnya : Devi berangkat kerja, menunggu angkot. Tiba-tiba ada mobil Luxio yang berhenti di depannya. "Ayo, naik Mbak. Ini mobil omprengan kok" kata si supir. Devi pun naik. Dan karena pintu geser mobil Luxio itu sedikit merepotkan dan berat untuk dibuka (dan Devi sudah terlambat masuk kerja), maka Devi lebih memilih duduk di jok depan. Luxioo itu berhenti di depan gerbang pabrik, Devi membayar uang 3000 kepada pak supir. Orang-orang diluar tidak melihat ini. Mereka pikir Devi diantar calon suaminya yang bermobil Luxioo. Dan mungkin calon suaminya orang yang cukup mapan karena bisa beli Luxioo. Padahal itu cuma mobil angkot. Dan pak supir itu pun tidak ada hubungan apa-apa denga...

Dikotak-kotakkan

Malam hari, tanggal 17 Desember 2014-12-10   Pertama, saya mau terima kasih banyak sama Misri yang sudah sangat berbaik hati untuk meminjamkan laptopnya ke saya. Yes, you got it right. Posting ini ditulis memakai laptop punya orang lain. (But then, who cares? Yang penting pikiran saya bisa tertuang) Pokoknya, kalau kalian pada akhirnya suka sama posting ini, kalian juga harus menyelipkan rasa terimakasih pada Misri.  Oh iya, alamat facebook-nya si Misri adalah Mizzry. Gih, di-add sebagai teman. Hehe ^_^   Now back to the title : Dikotak-kotakkan. Saya ingat beberapa tahun lalu saat masih SD, ada iklan di televisi. Bukan iklan komersil sih, tapi lebih ke iklan layanan masyarakat. Kalau nggak salah iklan itu dibuat oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, di era Presiden Soeharto. Di dalam iklan itu diceritakan ada tiga orang dari kalangan keluarga menengah kebawah yang bersahabat : Acong, Sitorus dan Joko. Acong berasal dari ras Tionghoa, Sitorus berdarah Batak, d...

Karena Ucapan (bisa jadi) adalah Doa

Saya kerja di Ungaran, sedangkan rumah saya di Semarang. Saya pulang ke rumah tiap seminggu sekali. Biasanya Minggu pagi saya berangkat dari kost, kemudian Minggu sore saya sudah balik lagi ke kost. Saya memang jarang tidur dirumah. Hehehehe :D Suatu hari saya pernah kondangan ke luar kota, acaranya hari Minggu dari pagi sampai sore. Itu berarti, harusnya saya tidak bisa pulang ke Semarang. Tapi karena saya ingin pulang dan memberikan uang bulanan ke Ibu, saya tetep nekad pulang. "Nanti habis kondangan, saya langsung pulang Bu. Balik ke kost-nya hari Senin pagi aja. Sekalian langsung berangkat kerja " kata saya. Ternyata pada hari H, acara kondangan selesai lebih cepat. Saya tiba dirumah hari Minggu jam 4 sore. Kemudian saya memutuskan untuk berangkat di kost setelah maghrib. "Lho, katanya mau pulang besok? Katanya sekalian mau berangkat kerja?" tanya Ibu. "Berangkat sekarang aja. Biar bisa tidur di kos aja. Kalau kesiangan kan masih keburu" saya berkila...

50 Reasons Why I Prefer to be Jomblo

Nama saya Devi Oktaviasari, dan saya masih single. Orang mengatakan saya jomblo. Istilah lainnya : fakir asmara. Tsaaaahh.... Konon besok 14 Februari 2014 dirayakan sebagai Hari Kasih Sayang. It's Valentine's Day. Hah! Harus banget ya, tanggal kayak gitu dirayakan? For me, dalam satu tahun itu tanggal yang paling istimewa ya cuma pas ulang tahun. Kok bisa? Iya dong. Itu kan titik balik kita saat pertama kali muncul di dunia. Negara kita kebetulan dihuni oleh banyak manusia yang merayakan Hari Kasih Sayang. That's why, tanggal 14 Februari kadang jadi hari yang empet buat orang-orang yang jomblo. Padahal apa sih salahnya dengan menjadi jomblo? Karena dianggap kurang bahagia? Well, sekarang saya mau nanya : Apakah punya pacar bikin seseorang bahagia? Belum tentu. Bukan cuma satu atau dua orang saja yang pacaran hampir 7 tahun, tapi setelah itu putus. Hubungan mereka kandas. Selesai. Breach of contract. Saya udah 5 tahun jadi jomblo, dan saya bahagia. Yep, I am s...