Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label story

Nyontek Through The Ages

Ini adalah postingan iseng yang bersumber dari pengamatan santai. Jadi jangan dibawa serius, lah ya. Kayak nggak pernah piknik aja.  Kalau kamu sama-sama penggemar karya JK Rowling seperti saya, kamu pasti tau kalo Rowling pernah nerbitin buku judulnya Quidditch Through The Ages . Buku itu berisi tentang sejarah diciptakannya permainan Quidditch dan perkembangannya dari tahun ke tahun. Well.. Judul posting kali ini "Nyontek Through The Ages", juga terinspirasi dari Bu JK Rowling. Bedanya, postingan ini bukan bagian dari dunia sihir Harry Potter. Postingan ini akan bercerita tentang tipe-tipe nyontek yang pernah saya temui (dan ada juga yang saya lakukan sendiri, ehem...) selama sekolah. Makanya saya kasih judul Nyontek Through The Ages, atau Nyontek dari Masa ke Masa. Sebagai manusia yang menghabiskan masa SD 6 tahun, SMP 3 tahun, dan SMK 4 tahun, saya cukup kenyang mendapat pelajaran, PR dan ulangan. Seperti halnya roti tawar yang baru lengkap kalo ada margarin dan selai...

A Day in Dufan - 16 Jan 2016

"Kenapa harus Dufan?" Pertanyaan ini paling sering dilontarkan oleh orang-orang ketika saya dengan semangatnya menjawab "Dufan!" sebagai destinasi wajib kalo ke Jakarta. Bukan Monas, bukan TMII atau Sea World. Tapi Dufan, the one and only. Kalau sudah mengunjungi Dufan, saya udah plong. Mau diajak kemana aja setelahnya, saya manut. Selain jumlah bioskop, nggak ada yang lebih bikin saya jealous terhadap orang Jakarta selain karena mereka punya taman rekreasi kayak Dufan. Dufan alias Dunia Fantasi adalah taman hiburan yang terletak di kompleks Taman Impian Jaya Ancol. Sejak diresmikan tahun 1985 dengan maskot Kera Bekantan yang didandani dengan funky, Dufan telah menjelma menjadi tempat wisata keluarga dengan wahana permainan yang oke untuk menguji adrenalin maupun teriak-teriak (atau dalam kasus saya : misuh-misuh). Saya masih ingat, kunjungan pertama saya ke Dufan adalah tahun 2004 pada acara Karya Wisata SMP. Selain ke Dufan, waktu itu kami juga mengunjungi ...

Tolong ya. Please.

Saya sering dimintai tolong oleh teman, tentang hal-hal yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Bikin naskah pidato, menerjemahkan artikel, bikin teks untuk perkenalan di depan kelas, atau bikin kalimat dengan tenses tertentu. Saya sih mau-mau aja bantuin mereka. Namanya juga temen. Tapi yang membuat saya sedikit jengkel adalah cara mereka meminta. Biasanya mereka akan kirim pesan via Whatsapp atau Facebook messenger, dan hampir semuanya akan menulis : "Boleh minta tolong nggak?" Yes, it's only 4 words. But this sentence is so quite irritating me. "Bisa minta tolong nggak?" Nah, dengar saja. Bagaimana saya bisa menjawab, lha wong mereka saja belum memberitahu akan minta tolong dalam hal apa. Tak bisakah mereka langsung menulis "Boleh minta tolong nerjemahin artikel? Nggak banyak kok, cuma empat paragraf, tentang kesehatan. Deadline-nya dua hari" Tuh, simpel kan? Dan jelas, kalimat barusan lebih to the point. Orang yang membaca kalimat itu l...

Hari Itu Ayahku Meminta Fotonya Dilukis (sebuah cerpen)

Semarang, Senin siang. Panas bukan kepalang. Aku berkeringat menunggu bus nomor 10 yang membawaku pulang. Tanpa berpikir panjang aku menaiki sebuah bus jurusan rumahku, yang sudah sarat penumpang itu. Bau keringat anak sekolah, bau sayur sisa dagangan di pasar dari ibu-ibu pedagang, dan asap polusi yang sesekali masuk lewat jendela bus semuanya membaur. Memuakkan. Untung rumahku hanya 20 menit perjalanan naik bus. Di halaman rumah aku melihat mobil ayah. Ini masih jam 2 siang, pikirku. Kenapa Ayah pulang? "Na, kalau sudah ganti baju tolong bantu Papimu beres-beres ya", ibu berkata padaku. Rupanya tadi ayah minta izin pulang cepat. Tak biasanya, pikirku. Di gudang, ayahku sibuk memilah-milah barang lama. Beberapa roda bekas atau sisa cat yang sudah kering ditumpuk di satu sisi. Koran-koran lama bertumpuk di sudut lain. Ia menoleh saat melihat aku datang. "Cari apaan sih Pi?" "Tidak ada. Cuma mau melihat barang-barang lama Papi. Coba lihat, Na. Ini ada buku kenan...

Derai Tawa di Minggu malam dari #RuleOfThree edisi kota Semarang

Halo, selamat siang. Nama saya Devi, reporter amatir yang sok kece di blog ini. Dan sebagai reporter yang baik, kali ini saya akan mewartakan acara Rule Of Three yang diadakan di Semarang hari Minggu tanggal 15 Februari lalu. disclaimer : draft laporan acara ini sebetulnya sudah ditulis semenjak Februari, tapi berhubung banyaknya kesibukan yang menyita waktu serta kerjaan sambitan lain (termasuk ngurus anak kucing adopsi dan ngisi TTS), maka laporan ini butuh waktu hampir 3 bulan untuk dirilis. Sabar ya. Maklum, seorang jomblo memang dituntut punya banyak kegiatan untuk mengalihkan derita hati yang kesepian (halah!) Baiklah. Jadi begini ceritanya. *sambil membenarkan posisi duduk* Tanggal 15 Februari 2015 (yak, satu hari setelah Valentine's Day) komunitas Standup Indo Semarang punya gawe. Sebuah tour standup comedy yang bertajuk Rule Of Three (atau hashtag #RuleOfThree), dengan bintang utama David Nurbianto, Abdur Arsyad, dan Dzawin Nur. Yes, that's right. Mereka ber...