Langsung ke konten utama

Kebahagiaan-kebahagiaan Kecil

 - lagi berkendara naik ojek, ketika sampai di perempatan lampu lalu lintas, eh lampunya pas nyala hijau.


- mau buang sampah kertas ke tempat sampah yang letaknya beberapa langkah dari meja kita. Pas nyoba lembar, wuihh... lemparannya berhasil masuk pas ke tempat sampah. Berasa kayak Kareem Abdul-Jabbar lagi cetak skor.


- di dalam bus, nyalain playlist Spotify secara acak, eh yang muncul keputar pertama adalah lagu favorit.


- aroma tanah dan jalanan yang basah tersiram hujan setelah panas seharian. Iya, petrichor namanya.


- turun dari bus, papasan sama strangers laki-laki maupun perempuan, lempar senyum tipis secara sopan, dan mereka senyum balik.


- posting sesuatu di Whatsapp stories, terus dapat like (love) dari orang yang kebetulan saya taksir. Ciyee..ciyee..


- Menyeduh kopi dengan air panas mendidih. Oh, that aroma and that first sip are just perfect.


- Pesan sesuatu dari online shop dan barangnya sampai lebih cepat dari estimasi.


- Pengen banget nyoba makan sesuatu yang baru, pas beli ternyata rasanya enak banget. 



Dan lain-lain, dan lain-lain.



Count your blessings, gitu kata orang Amrik. 

Menghitung kebahagiaan-kebahagiaan kecil setiap hari dan menyukurinya. Karena kita baru akan menyadari betapa berharganya hidup setelah kita kehilangan kebahagiaan-kebahagiaan ini.


Bersyukur, bahwa di atas kesialan, musibah, dan kenestapaan, kita masih hidup dan Tuhan masih memelihara kita.


Sampai hari ini.


Love,
Devi Okta

Kebahagiaan kecil versi saya : Me-time. Menghabiskan waktu libur dengan diri sendiri. Seru, tau. (Halah, bilang aja pembelaan diri karena you single, mbak..)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hompimpa (Sebuah puisi dari Tengsoe Tjahjono)

Puisi Hompimpa karangan Tengsoe Tjahjono pertama kali saya ketahui saat kelas 1 SMP. Tepatnya saat classmeeting yang diadakan pasca ulangan umum. Sekolah saya SMP Negeri 6 Semarang mengadakan beberapa lomba. Yah, buat ngisi hari aja sih. Supaya murid-muridnya nggak nganggur gitu. Waktu itu Bu Tamsih (salah satu pengajar Bahasa Indonesia) mengadakan lomba deklamasi puisi Hom-Pim-Pa untuk anak-anak kelas tiga. Syaratnya : saat deklamasi puisi, satu kelas harus maju semua. Tidak boleh hanya satu orang yang maju deklamasi mewakili kelas mereka. Pokoknya, satu kelas maju bareng. Tampil di tengah-tengah lapangan. Ditonton oleh kelas satu dan kelas dua. Asik ya? Tampil rombongan, gitu. Jadi bisa dilihat kekompakan masing-masing kelas. Kalau satu orang salah, ya satu kelas bisa ancur. Pernah ada kelas yang tampil bagus banget di awal. Setelah memasuki bagian tengah-tengah, ada murid yang suaranya cempreng dan cengengesan (sungguh kombinasi yang absurd, hehe) yang tentu saja membuat semua penon...

i can't believe i have been three years here (part 3)

Chapter #3 : The Days of Receptionist Berangkat dari rumah habis subuh. Bangunin Oom Apri buat nganterin ke Terminal. Naik bis Semarang-Solo. Turun di pasar Karangjati. Itulah pagi pertama dan hari pertama sebagai karyawan. Ulangi lagi ah, sebagai Kar-Ya-Wan . Bukan anak sekolah (walaupun belum resmi diwisuda sih) Seperti apa rasanya masuk kerja pertama kali? Hmm.. kamu ingat waktu pertama kali masuk SMP, atau SMK? Ingat hari pertamamu di sekolah baru? Kurang lebih seperti itu. Kamu ketemu sama temen-temen baru. Ketemu sama lingkungan baru. Gugup, canggung, dan menerka-nerka apa yang akan kamu lakukan disini. Orang pertama yang saya kenal adalah Bu Dyah. Asistennya Pak Anil. Secara nggak langsung Bu Dyah juga atasan saya, karena Bu Dyah ini yang meng-handle seluruh kegiatan office. Selain Bu Dyah, inilah beberapa orang yang sering sliwar-sliwer di area office dan resepsionis : - Mbak Endang : resepsionis 1 sekaligus yang dituakan. Udah 5 tahun bekerja di PT USG. Waktu sa...

TALKSHOW with Raditya Dika

Selamat sore. Saya nulis postingan ini karena dua hal : Desakan dari beberapa teman yang penasaran cerita lengkapnya dan desakan dari sel abu-abu di otak yang memaksa supaya momen tanggal 1 Desember ini ditulis sebelum akhir tahun. Momen ini harus ditulis. Lagian, masak udah satu bulan lebih nggak ada postingan apa-apa sih? Begitu kata otak saya. Karena takut dia menjadi anarkis, maka saya turuti. Jadi, silakan duduk manis, ambil camilanmu, dan simak cerita saya. Pada hari pertama di bulan Desember 2013, salah satu keinginan saya (dan ratusan orang lainnya) terkabul : bertemu Raditya Dika, berfoto bersama dan dapat tanda tangan dia. Iya, beneran. Kalau nggak percaya, coba lihat foto ini. Bisa bertemu Raditya Dika, nanya-nanya soal dia, dan berfoto seperti itu adalah suatu kesempatan langka. Dan cukup bikin sirik. Kamu sirik kan? Enggak ya? Oh, bagus... bagus.... Terus kalau kamu nggak sirik, kenapa mulut kamu manyun, mata kamu melototi monitor dan... woy, itu mouse...