Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label personal poem

dear Yunita

bulan ini, sebelas tahun yang lalu Kami bertemu saat kelas dua SMP. Kelas 2 A. Masing-masing dari kami tak pernah kenal satu sama lain sejak kelas satu. Siapa dia, siapa saya. Entah. Di kelas dua, kami hanya berkenalan singkat. "Yunita" katanya. "Devi" saya menyambut tangannya. Maka selesailah. Pada tiga bulan berikutnya, saya melihatnya sebagai anak yang tak banyak bicara. Sedikit kikuk. Canggung. Tidak sering merespon pertanyaan yang diajukan guru, walaupun saya yakin dia punya jawaban di kepalanya. Orang tak akan percaya kalau saya bilang bahwa anak yang pemalu di kelas ini adalah sahabat saya sekarang. Ya, benar. Sa-Ha-Bat. Kontras, memang. Saya yang hobi ngoceh seperti prenjak habis dikasih jangkrik, sementara Yunita yang lebih banyak diam dan hanya bicara kalau memang benar-benar ada pikiran yang ingin dikeluarkan dari otaknya. But that's true. She is my bestfriend, and I learnt a lot from her. Mungkin ucapan terimakasih harus diucapkan untuk Harry Potter...

Wanita yang kupanggil Ibu

Wajahnya adalah wajahku matanya adalah mataku ah, bahkan garis senyum kami pun sama tapi aku belum mewarisi walau hanya sepersepuluh kesabarannya. Wanita yang kupanggil Ibu ini, setiap pagi masih membangunkanku seperti membangunkan anak sekolah mengomel jika aku terlalu gegabah, masih berkali-kali mengingatkanku untuk makan walau aku berkata ''ndak usah'' Wanita yang kupanggil Ibu ini, masih tak mengerti bagaimana mengoperasikan seluler tak paham facebook, apalagi twitter dia selalu minta tolong pada tetangga kami untuk mengirimiku sms 'kapan pulang' karena tak paham fungsi tombol-tombol di layar Wanita yang kupanggil Ibu ini, gemar sekali menyapa orang-orang yang lewat di depan rumah kami menolehkan kepala ke arah jalan, untuk sekedar tau motor siapa yang lewat, atau siapa yang sedang berjalan dan kemana orang itu pergi sebentar-sebentar mulutnya berseru "Hei, mau kemana?" atau "Hei, mampir sini" atau "Hei, kok k...

Angka - angka ini

Ini adalah puisi yang dibuat untuk mengikuti lomba Penulisan Puisi Matematika Angga Brian Fernandi, adik kelas saya ngasih tau kalau ada lomba nulis puisi yang temanya Matematika, deadline tanggal 8 November. Saya nggak suka matematika, tapi saya seneng bikin puisi. Yah... itung-itung pelampiasan juga. Ini puisi yang saya buat. Emang nggak berharap menang juga sih.   ANGKA - ANGKA INI Namaku Devi. Aku tak suka matematika. Aku tak tau apa indahnya angka-angka Apa gunanya menghitung-hitung kecepatan sebuah roda? Kenapa harus repot mengalikan jarak dan massa? Kenapa harus pusing mencari sisi miring segitiga? Hitungan-hitungan itu tak akan kaupakai saat melamar kerja atau meminang wanita Lima tahun lalu di akademi aku belajar algoritma Berminggu-minggu dijejali aritmatika Berjam-jam kupelajari aljabar dan geometri Adakah yang kumengerti? Tidak sama sekali. Aku pasti sangat bodoh sampai guru matematika meny...

Betapa Kacaunya Cinta itu

Cinta itu gila. Cinta itu absurd. Cinta itu buta. Cinta itu kancrut. Tak peduli umurnya setua ayahmu, tingginya hanya sekupingmu, baunya seperti kelincimu, kalau sudah cinta ya mau diapakan lagi? Seandainya Vino Bastian muncul atau Aura Kasih nongol di depanmu, ya kamu nggak akan terpengaruh. Namanya juga cinta. Bener kan? Kamu yang tadinya suka Linkin Park, anti nonton film India yang menurutmu lebay, tiba-tiba jadi gila Shahrukh Khan, bersenandung Chalte Chalte, nonton Kabhie Khushi Kabhie Gham sampai tamat. Demi apa? Demi dia yang kamu taksir. Supaya kamu punya sesuatu yang menarik minat dia. Setidaknya kalau kalian bertemu, dia akan mengira bahwa kamu Bollywood lovers juga. Kamu yang tadinya nggak ngerti soal bola, benci setengah mati saat TV lebih memilih menyiarkan pertandingan bola ketimbang film favoritmu, akhirnya bela-belain nabung buat beli kaos jersey original dengan lambang Barcelona. Demi siapa? Demi dia yang lagi kamu deketin. Dia suka bola, sementara kamu paling ...

Once Upon A Time, on a twenty-minutes moment

kepada kamu dengan segala harapan Kamu tahu hari paling indah di tahun pertamaku sekolah? hari Selasa, bulan Mei hampir 5 tahun lalu. Pertama kalinya kita pulang bersama. Pertama kalinya aku melihatmu memakai pakaian perwira. Baju putih, celana putih, atribut paskibra lengkap. Kamu lebih gagah daripada Raja Elang yang menyelamatkan Gandalf dan memakai mahkota hadiah dari Thorin Oakenshield. Sang Pengatur Hidup dengan rencana sempurna-Nya yang begitu indah membuatku melihat aksi gagahmu di Stadion Tri Lomba Juang siang itu. Arif Subandi, macan kesiswaan itu menyuruh semua kelas satu untuk menghadiri upacara pembukaan Pekan Olahraga Daerah. Semuanya, termasuk kelasku. Di siang yang terik, sebelum berangkat ke stadion kami diminta berbaris di depan ruang OSIS, dan saat itulah mataku menangkap sosokmu. Kamu dan teman-teman Paskibramu bersiap-siap menjadi pembawa bendera kontingen. Ah, Anginku. Rekhyt- ku. Disuruh berbaris seharian pun aku rela, walaupun dalam terik siang pun tak m...