Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label poem

Hompimpa (Sebuah puisi dari Tengsoe Tjahjono)

Puisi Hompimpa karangan Tengsoe Tjahjono pertama kali saya ketahui saat kelas 1 SMP. Tepatnya saat classmeeting yang diadakan pasca ulangan umum. Sekolah saya SMP Negeri 6 Semarang mengadakan beberapa lomba. Yah, buat ngisi hari aja sih. Supaya murid-muridnya nggak nganggur gitu. Waktu itu Bu Tamsih (salah satu pengajar Bahasa Indonesia) mengadakan lomba deklamasi puisi Hom-Pim-Pa untuk anak-anak kelas tiga. Syaratnya : saat deklamasi puisi, satu kelas harus maju semua. Tidak boleh hanya satu orang yang maju deklamasi mewakili kelas mereka. Pokoknya, satu kelas maju bareng. Tampil di tengah-tengah lapangan. Ditonton oleh kelas satu dan kelas dua. Asik ya? Tampil rombongan, gitu. Jadi bisa dilihat kekompakan masing-masing kelas. Kalau satu orang salah, ya satu kelas bisa ancur. Pernah ada kelas yang tampil bagus banget di awal. Setelah memasuki bagian tengah-tengah, ada murid yang suaranya cempreng dan cengengesan (sungguh kombinasi yang absurd, hehe) yang tentu saja membuat semua penon...

Jika ia sebuah cinta

jika ia sebuah cinta ia tidak mendengar, namun senantiasa bergetar jika ia sebuah cinta ia tidak buta, namun senantiasa melihat dan merasa jika ia sebuah cinta ia tidak menyiksa, namun senantiasa menguji jika ia sebuah cinta ia tidak memaksa, namun senantiasa berusaha jika ia sebuah cinta ia tidak cantik, namun senantiasa menarik jika ia sebuah cinta ia tidak datang dengan kata-kata, namun senantiasa menghampiri bersama hatinya jika ia sebuah cinta dia tak mesti selalu berlari tapi akan menghampiri perlahan walau pasti jika ia sebuah cinta ia tidak terucap dengan kata, namun senantiasa hadir dalam sinar mata jika ia sebuah cinta ia tidak hanya berjanji, namun senantiasa mencoba memenuhi jika ia sebuah cinta ia mungkin tidak suci, namun senantiasa tulus jika ia sebuah cinta ia tidak hadir karena permintaan, namun hadir karena kerelaan jika ia sebuah cinta ia tidak hadir dengan kekayaan dan kebendaan namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan jika ia sebuah cinta......

Sebuah Tanya - Soe Hok Gie

akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui apakah kau masih berbicara selembut dahulu? memintaku minum susu dan tidur yang lelap? sambil membenarkan letak leher kemejaku” (kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram meresapi belaian angin yang menjadi dingin) “apakah kau masih membelaiku semesra dahulu ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat” (lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita) “apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta?” (haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu) ...