Langsung ke konten utama

Postingan

Tolong ya. Please.

Saya sering dimintai tolong oleh teman, tentang hal-hal yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Bikin naskah pidato, menerjemahkan artikel, bikin teks untuk perkenalan di depan kelas, atau bikin kalimat dengan tenses tertentu. Saya sih mau-mau aja bantuin mereka. Namanya juga temen. Tapi yang membuat saya sedikit jengkel adalah cara mereka meminta. Biasanya mereka akan kirim pesan via Whatsapp atau Facebook messenger, dan hampir semuanya akan menulis : "Boleh minta tolong nggak?" Yes, it's only 4 words. But this sentence is so quite irritating me. "Bisa minta tolong nggak?" Nah, dengar saja. Bagaimana saya bisa menjawab, lha wong mereka saja belum memberitahu akan minta tolong dalam hal apa. Tak bisakah mereka langsung menulis "Boleh minta tolong nerjemahin artikel? Nggak banyak kok, cuma empat paragraf, tentang kesehatan. Deadline-nya dua hari" Tuh, simpel kan? Dan jelas, kalimat barusan lebih to the point. Orang yang membaca kalimat itu l...

The new members of Devitopia

Saya punya kesayangan baru. Sini, saya kenalin. Sejak lima bulan belakangan ini, saya punya 'yayang' baru. Yang biasa saya bawa kemana-mana. Yang menemani saya saat bengong. Yang membantu saya membunuh idle time . Yang membuat saya seolah masuk ke sebuah gelembung dan lupa pada hal-hal lain. Dan jumlahnya nggak hanya satu. Tapi ada tiga. Yang pertama adalah sepeda saya. Namanya Mi Azul Fuerte. Atau saya panggil Azul. Sepeda merek Polygon tipe Monarch 2.0 ini saya beli saat menang arisan bulan Mei. Sudah lama saya berangan-angan punya sepeda sendiri untuk berangkat kerja. I was purchasing this bike from Rodalink , which is the official store of Polygon. Toko Rodalink ini ada di area Bangkong, Semarang. Harganya (waktu itu) IDR 1600 K. Sebenarnya, Toko Rodalink menyediakan jasa pengantaran sih. Waktu saya tanya berapa kira-kira biaya pengiriman ke Genuk, si pramuniaga menjawab "sekitar 100 ribu mbak" Mulut saya langsung mangap. Dari Genuk ke Bangkong musti ba...

In the name of Fear

SATU Beberapa waktu lalu saya nonton ulang film Harry Potter kelima (Harry Potter and the Order of the Phoenix) dari DVD. Walaupun udah hapal ceritanya tapi saya nggak pernah bosen nonton ulang. In my opinion, dari semua film Harry Potter lainnya, film kelima ini adalah adaptasi yang paling bagus dan paling emosional kedua setelah Harry Potter and the Deathly Hallows part 2. Problema dilematis yang dilewati Harry di masa transisinya sebagai remaja begitu rumit. Persidangan di Departemen Sihir, sikap Profesor Dumbledore yang tiba-tiba menjauh, kisah cintanya dengan Cho Chang (yang akhirnya kandas, hahaha.. saya senang sekali!) dan puncaknya Harry kehilangan satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya (dan saya nangis waktu adegan ini. Biarin) Di film kelima ini, Pangeran Kegelapan Lord Voldemort mulai bangkit. Sesuatu yang amat ditakuti oleh semua masyarakat sihir. Terjadi pelarian besar-besaran di penjara Azkaban dan penyihir-penyihir keji kembali mengabdi pada tuan besar mereka. Ke...

Hal-hal yang selalu muncul di film horor ala Hollywood

Saya adalah pecinta film. Film Indonesia atau luar negeri, baik nonton langsung di bioskop atau lewat DVD. Meskipun mengaku menyukai film dari berbagai macam genre, tapi kebanyakan film yang saya tonton adalah film horor. Insidious, Final Destination, Ouija, Sinister, Woman in Black, Jessabelle, The Pact, Cabin in The woods, The Conjuring (one of my favorite until today), hingga film-film horor luar negeri jaman dulu kayak Texas Chainsaw Massacre, Children of Corn, Nightmare on Elm Street, dan Amityville. Tahun 2015 ini ada film horor yang saya tunggu : Crimson Peak, dengan sutradara Guilermo Del Toro. Crimson Peak lumayan mencengangkan walaupun hasil akhirnya bukanlah film horor murni, melainkan sebuah drama cinta gothic yang tragis. Lalu ada Sinister 2, sekuelnya Sinister yang juga menyeramkan. Sebetulnya kalau mau jujur ya jika dibandingkan dengan Hollywood, horor buatan sineas Asia jauh lebih...lebih..lebih.. BAIK. You don't hear it from me. Film-film seperti The Ring (Jepang),...

(Random) Thoughts after Lebaran

Wah, udah tanggal 30 Oktober ya. Itu artinya sudah 120 hari sejak postingan sebelumnya. Artinya lagi, sudah 101 hari berlalu sejak Hari Raya Idul Fitri. Dan sekarang, nggak terasa kita sudah masuk ke bulan-bulan terakhir tahun 2015. Hanya kurang 2 bulan menjelang gema terompet dan keriuhan petasan menyambut Tahun Baru. Cepet ya? Tau-tau udah mau 2016 aja. Bicara soal Hari Raya Idul Fitri bulan Juli lalu, boleh dibilang tahun ini tidak ada hal baru buat saya. Everything was just last year. Memasak ketupat dan lontong, salat Idul Fitri, kirim ucapan, bikin sayur opor ayam dan sambal goreng, bagi-bagi duit THR sama keponakan, dan tentunya…. Mijili. Mijili itu tradisi di tempat tinggal saya, dimana para warga akan berbondong-bondong ke musola dengan membawa ketupat, biasanya 4-5 buah. Ketupatnya dibelah tengah, lalu diisi dengan sayur tahu. Bisa juga diisi sambal taoge, atau bubuk kacang. Ketupat-ketupat itu akan didoakan bersama di musola, lalu sesama warga bisa saling tukar-menukar ketu...

Hari Itu Ayahku Meminta Fotonya Dilukis (sebuah cerpen)

Semarang, Senin siang. Panas bukan kepalang. Aku berkeringat menunggu bus nomor 10 yang membawaku pulang. Tanpa berpikir panjang aku menaiki sebuah bus jurusan rumahku, yang sudah sarat penumpang itu. Bau keringat anak sekolah, bau sayur sisa dagangan di pasar dari ibu-ibu pedagang, dan asap polusi yang sesekali masuk lewat jendela bus semuanya membaur. Memuakkan. Untung rumahku hanya 20 menit perjalanan naik bus. Di halaman rumah aku melihat mobil ayah. Ini masih jam 2 siang, pikirku. Kenapa Ayah pulang? "Na, kalau sudah ganti baju tolong bantu Papimu beres-beres ya", ibu berkata padaku. Rupanya tadi ayah minta izin pulang cepat. Tak biasanya, pikirku. Di gudang, ayahku sibuk memilah-milah barang lama. Beberapa roda bekas atau sisa cat yang sudah kering ditumpuk di satu sisi. Koran-koran lama bertumpuk di sudut lain. Ia menoleh saat melihat aku datang. "Cari apaan sih Pi?" "Tidak ada. Cuma mau melihat barang-barang lama Papi. Coba lihat, Na. Ini ada buku kenan...

"Udah kebiasaan, sih!"

At the end, it's about the habit. Saya termasuk orang yang percaya peribahasa "alah bisa karena biasa". Bahwa segala hal yang baru bisa kita kuasai kalau kita terbiasa melakukannya. Ambil contoh bahasa Inggris. Bahasa Inggris bukanlah bahasa Ibu saya. Tapi toh alhamdulillah saya bisa. Kenapa? Pertama, karena saya suka mempelajari bahasa Inggris. Kedua, karena saya terbiasa memakai bahasa Inggris. Paling tidak seminggu sekali. Belum lagi kalau nonton film dan memperagakan gaya pemeran utamanya di depan kaca, nah itu juga termasuk upaya pembiasaan untuk meluweskan lidah. Kini pun sekarang saya bekerja di perusahaan yang sebagian besar komunikasinya menggunakan bahasa Inggris, mulai dari balas-membalas email, baca manual, hingga Order confirmed. Semuanya memakai bahasa Inggris. Makanya saya akhirnya bisa fasih bahasa Inggris. Pasif maupun aktif. Di zaman modern ini, saya kerap menjumpai orangtua yang mengeluh bahwa anaknya tak bisa bahasa Jawa. Padahal mereka orang Jawa. Ib...

dear Yunita

bulan ini, sebelas tahun yang lalu Kami bertemu saat kelas dua SMP. Kelas 2 A. Masing-masing dari kami tak pernah kenal satu sama lain sejak kelas satu. Siapa dia, siapa saya. Entah. Di kelas dua, kami hanya berkenalan singkat. "Yunita" katanya. "Devi" saya menyambut tangannya. Maka selesailah. Pada tiga bulan berikutnya, saya melihatnya sebagai anak yang tak banyak bicara. Sedikit kikuk. Canggung. Tidak sering merespon pertanyaan yang diajukan guru, walaupun saya yakin dia punya jawaban di kepalanya. Orang tak akan percaya kalau saya bilang bahwa anak yang pemalu di kelas ini adalah sahabat saya sekarang. Ya, benar. Sa-Ha-Bat. Kontras, memang. Saya yang hobi ngoceh seperti prenjak habis dikasih jangkrik, sementara Yunita yang lebih banyak diam dan hanya bicara kalau memang benar-benar ada pikiran yang ingin dikeluarkan dari otaknya. But that's true. She is my bestfriend, and I learnt a lot from her. Mungkin ucapan terimakasih harus diucapkan untuk Harry Potter...

Derai Tawa di Minggu malam dari #RuleOfThree edisi kota Semarang

Halo, selamat siang. Nama saya Devi, reporter amatir yang sok kece di blog ini. Dan sebagai reporter yang baik, kali ini saya akan mewartakan acara Rule Of Three yang diadakan di Semarang hari Minggu tanggal 15 Februari lalu. disclaimer : draft laporan acara ini sebetulnya sudah ditulis semenjak Februari, tapi berhubung banyaknya kesibukan yang menyita waktu serta kerjaan sambitan lain (termasuk ngurus anak kucing adopsi dan ngisi TTS), maka laporan ini butuh waktu hampir 3 bulan untuk dirilis. Sabar ya. Maklum, seorang jomblo memang dituntut punya banyak kegiatan untuk mengalihkan derita hati yang kesepian (halah!) Baiklah. Jadi begini ceritanya. *sambil membenarkan posisi duduk* Tanggal 15 Februari 2015 (yak, satu hari setelah Valentine's Day) komunitas Standup Indo Semarang punya gawe. Sebuah tour standup comedy yang bertajuk Rule Of Three (atau hashtag #RuleOfThree), dengan bintang utama David Nurbianto, Abdur Arsyad, dan Dzawin Nur. Yes, that's right. Mereka ber...