Wajahnya adalah wajahku matanya adalah mataku ah, bahkan garis senyum kami pun sama tapi aku belum mewarisi walau hanya sepersepuluh kesabarannya. Wanita yang kupanggil Ibu ini, setiap pagi masih membangunkanku seperti membangunkan anak sekolah mengomel jika aku terlalu gegabah, masih berkali-kali mengingatkanku untuk makan walau aku berkata ''ndak usah'' Wanita yang kupanggil Ibu ini, masih tak mengerti bagaimana mengoperasikan seluler tak paham facebook, apalagi twitter dia selalu minta tolong pada tetangga kami untuk mengirimiku sms 'kapan pulang' karena tak paham fungsi tombol-tombol di layar Wanita yang kupanggil Ibu ini, gemar sekali menyapa orang-orang yang lewat di depan rumah kami menolehkan kepala ke arah jalan, untuk sekedar tau motor siapa yang lewat, atau siapa yang sedang berjalan dan kemana orang itu pergi sebentar-sebentar mulutnya berseru "Hei, mau kemana?" atau "Hei, mampir sini" atau "Hei, kok k...
Ini adalah blog Devi Oktavia, yang kadang menyamar dengan topeng remaja, dan ini sebagai diary galaunya. Kadang bertindak seperti reporter, dan ini adalah korannya. Kadang berlagak seperti pencerita, dan ini adalah panggung kecilnya. Kadang menjadi dirinya sendiri, dan inilah coretan keluh kesahnya. Selamat datang dan selamat membaca.